Timor: Kisah Mobil Nasional, Dari Puncak Harapan Hingga Jurang Kenyataan
Setiap negara berkembang mendambakan memiliki industri otomotif kebanggaan yang mampu bersaing di kancah global. Di Indonesia, impian itu pernah menjelma dalam merek Timor, sebuah inisiatif ambisius yang menjanjikan mobil rakyat dengan harga terjangkau, namun akhirnya karam dihantam gelombang krisis.
Harapan: Mimpi Mobil Nasional yang Membara (1996)
Kisah Timor dimulai pada tahun 1996 dengan diterbitkannya Instruksi Presiden (Inpres) No. 2/1996 tentang Industri Mobil Nasional. Inpres ini menjadi payung hukum bagi PT Timor Putra Nasional (TPN), perusahaan milik Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto), untuk memproduksi "mobil nasional".
Harapan yang diemban Timor sangat besar. Dengan fasilitas istimewa berupa pembebasan bea masuk dan pajak barang mewah, Timor dijanjikan mampu menjual mobil dengan harga jauh lebih murah dibandingkan kompetitor. Ini adalah janji mobil rakyat, kebanggaan nasional yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan industri komponen lokal dan alih teknologi. Model pertamanya, Timor S515, yang sejatinya adalah rebadge dari Kia Sephia asal Korea Selatan, diproyeksikan menjadi ikon kemandirian otomotif Indonesia.
Realita: Kontroversi dan Kejatuhan yang Pahit (1997-1998)
Namun, realita Timor jauh dari harapan. Sejak awal, proyek ini menuai kontroversi tajam. Status "mobil nasional" Timor dipertanyakan karena pada fase awal, kendaraan diimpor secara utuh (Completely Built Up/CBU) dari Korea Selatan, dengan kandungan lokal yang sangat minim. Ini dianggap sebagai praktik proteksionisme berlebihan yang tidak adil bagi produsen otomotif lain yang telah berinvestasi di Indonesia.
Negara-negara seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Uni Eropa, yang memiliki kepentingan besar di pasar otomotif Indonesia, melayangkan protes keras dan membawa kasus ini ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Mereka menuding Indonesia melanggar prinsip perdagangan bebas dan menciptakan persaingan tidak sehat.
Puncak dari permasalahan ini datang pada tahun 1997, saat krisis moneter Asia menghantam Indonesia dengan telak. Ekonomi ambruk, nilai tukar rupiah terpuruk, dan daya beli masyarakat anjlok drastis. Sebagai bagian dari kesepakatan pinjaman dengan Dana Moneter Internasional (IMF), pemerintah Indonesia dipaksa untuk mencabut segala fasilitas istimewa yang diberikan kepada Timor.
Tanpa privilese tersebut dan dengan kondisi ekonomi yang memburuk, produksi Timor terhenti total. PT Timor Putra Nasional menghadapi kesulitan finansial yang parah dan akhirnya dinyatakan bangkrut. Pabrik yang sedianya akan menjadi pusat produksi mobil nasional itu pun terbengkalai.
Warisan: Pelajaran Berharga
Kisah Timor adalah cerminan ambisi besar bangsa yang harus berhadapan dengan kompleksitas ekonomi, politik, dan perdagangan global. Meski gagal menjadi mobil nasional sejati dalam pengertian pengembangan dari nol, Timor meninggalkan warisan penting: sebuah pelajaran berharga tentang pentingnya fondasi industri yang kuat, persaingan sehat, dan keberlanjutan tanpa privilese yang merusak.
Hingga kini, Timor tetap menjadi babak penting dalam sejarah otomotif Indonesia, pengingat akan impian yang pernah membara, kontroversi yang menyertainya, dan pahitnya realita yang mengakhiri sebuah perjalanan.
