Berita  

Program Smart City Gagal di Beberapa Kota: Evaluasi Diminta

Smart City Tersandung: Mengapa Evaluasi Komprehensif Tak Bisa Ditunda

Visi kota cerdas—yang digerakkan oleh teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup, efisiensi, dan keberlanjutan—telah memukau banyak pemerintah kota di seluruh dunia. Namun, di balik janji-janji inovasi dan modernisasi, realitas di lapangan seringkali jauh berbeda. Di beberapa kota, program Smart City justru menemui kegagalan, memicu seruan untuk evaluasi mendalam.

Janji yang Tak Terpenuhi

Awalnya, konsep Smart City disambut antusias. Mulai dari sensor pintar untuk mengelola lalu lintas, lampu jalan hemat energi, hingga platform digital untuk partisipasi warga, berbagai inisiatif digulirkan. Tujuannya mulia: menciptakan kota yang lebih responsif, efisien, dan nyaman. Namun, sejumlah proyek di berbagai belahan dunia, dari kota-kota besar hingga menengah, justru terhenti, tidak memberikan dampak yang diharapkan, atau bahkan menjadi "gajah putih" yang membebani anggaran.

Akar Masalah Kegagalan

Beberapa faktor kunci kerap menjadi penyebab tersandungnya program Smart City:

  1. Pendekatan Teknologi-Sentris, Bukan Warga-Sentris: Banyak proyek dimulai dengan pertanyaan "teknologi apa yang bisa kita pakai?" alih-alih "masalah warga apa yang ingin kita pecahkan?". Akibatnya, solusi yang diimplementasikan seringkali tidak relevan dengan kebutuhan riil masyarakat atau kurang mendapat adopsi.
  2. Kurangnya Visi dan Tata Kelola yang Jelas: Tanpa strategi jangka panjang yang komprehensif, koordinasi antarlembaga yang lemah, dan perubahan prioritas politik, proyek Smart City bisa kehilangan arah dan dukungan. Silo antar departemen kota menghambat integrasi data dan layanan.
  3. Masalah Keberlanjutan dan Biaya Tinggi: Implementasi teknologi Smart City membutuhkan investasi besar. Namun, seringkali perencanaan keberlanjutan, seperti model bisnis untuk pemeliharaan, upgrade, dan operasional jangka panjang, kurang diperhitungkan. Biaya pemeliharaan yang membengkak bisa membuat proyek terhenti.
  4. Minimnya Partisipasi dan Literasi Digital Warga: Smart City yang sukses membutuhkan warga yang berpartisipasi aktif dan mampu memanfaatkan teknologi yang ada. Jika literasi digital rendah atau warga tidak dilibatkan dalam proses perencanaan, solusi secanggih apapun akan sulit berhasil.
  5. Isu Privasi Data dan Keamanan: Pengumpulan data skala besar yang menjadi tulang punggung Smart City seringkali menimbulkan kekhawatiran privasi. Kegagalan dalam menjamin keamanan data dapat merusak kepercayaan publik dan menghambat adopsi.

Mendesak Evaluasi Komprehensif

Kegagalan ini bukan berarti konsep Smart City harus ditinggalkan, melainkan sinyal penting untuk melakukan introspeksi dan evaluasi. Evaluasi ini harus melampaui metrik teknis semata dan mencakup:

  • Dampak Sosial dan Ekonomi: Apakah proyek benar-benar meningkatkan kualitas hidup, mengurangi kesenjangan, atau menciptakan peluang ekonomi?
  • Efektivitas dan Efisiensi: Seberapa baik proyek mencapai tujuannya dengan sumber daya yang tersedia?
  • Keberlanjutan: Apakah model operasional dan finansial dapat dipertahankan dalam jangka panjang?
  • Partisipasi Warga: Seberapa jauh warga dilibatkan dan merasakan manfaat langsung?
  • Tata Kelola: Apakah ada mekanisme yang kuat untuk perencanaan, implementasi, dan pengawasan?

Mendesak evaluasi bukan hanya untuk menyelamatkan investasi, tetapi untuk belajar dari kesalahan. Dengan memahami mengapa beberapa program Smart City gagal, kota-kota dapat merumuskan strategi yang lebih bijak, inklusif, dan relevan di masa depan. Tujuan utamanya adalah membangun kota yang benar-benar cerdas: bukan hanya dari segi teknologi, tetapi juga dalam melayani dan memberdayakan penghuninya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *