Berita  

Banjir Tahunan Jadi Masalah Kronis di Wilayah Urban

Kota di Ujung Genangan: Ketika Banjir Tahunan Berubah Menjadi Ancaman Kronis Urban

Dulu, banjir tahunan sering dianggap sebagai ‘tamu tak diundang’ musiman yang datang bersama curah hujan ekstrem. Namun, kini, di banyak wilayah urban, ia telah bermutasi menjadi ‘penghuni tetap’ yang mengancam, sebuah masalah kronis yang merongrong sendi-sendi kehidupan kota. Dari sekadar fenomena alam, banjir telah berevolusi menjadi krisis multidimensional yang membutuhkan perhatian serius dan solusi jangka panjang.

Mengapa Ini Terjadi? Akar Masalah yang Kompleks

Kompleksitas masalah ini berakar dari perpaduan faktor alam dan ulah manusia. Perubahan iklim global yang memicu curah hujan ekstrem dengan intensitas dan durasi tak terduga, ditambah dengan pesatnya urbanisasi yang sering abai pada prinsip tata ruang berkelanjutan. Alih fungsi lahan resapan menjadi beton, sistem drainase yang tak mampu menampung volume air, penyempitan dan pendangkalan sungai akibat sampah dan sedimentasi, serta minimnya ruang terbuka hijau, semuanya berkontribusi menciptakan ‘mangkuk raksasa’ siap menampung air saat hujan deras.

Dampak yang Melumpuhkan: Lebih dari Sekadar Genangan

Konsekuensinya jauh melampaui genangan air semata. Kerugian ekonomi akibat lumpuhnya aktivitas bisnis, kerusakan infrastruktur vital seperti jalan dan jembatan, munculnya penyakit pasca-banjir, trauma psikologis bagi warga, hingga ketidakpastian hidup yang terus-menerus. Kualitas hidup warga kota pun terdegradasi secara signifikan, menghambat pertumbuhan dan kesejahteraan.

Jalan Keluar: Sinergi dan Transformasi Paradigma

Untuk keluar dari lingkaran setan ini, diperlukan pendekatan holistik dan terintegrasi. Penataan ruang kota yang berwawasan lingkungan harus menjadi prioritas, dengan mempertahankan dan memperluas area resapan air. Pembangunan dan revitalisasi sistem drainase yang modern, terintegrasi, dan mampu beradaptasi dengan perubahan iklim adalah keharusan. Pengelolaan sampah yang efektif untuk mencegah penyumbatan saluran air, restorasi fungsi sungai, serta penerapan teknologi peringatan dini (early warning system) juga krusial.

Namun, infrastruktur saja tidak cukup. Edukasi dan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan juga krusial. Peran pemerintah sebagai regulator dan pelaksana kebijakan harus kuat dan konsisten, didukung oleh penegakan hukum yang tegas terhadap pelanggaran tata ruang dan lingkungan.

Banjir tahunan yang menjadi masalah kronis bukan lagi sekadar tantangan, melainkan krisis yang membutuhkan tindakan segera dan berkelanjutan. Ini adalah panggilan bagi seluruh elemen kota – pemerintah, swasta, dan masyarakat – untuk bersinergi, mengubah paradigma dari reaktif menjadi proaktif. Hanya dengan komitmen dan aksi nyata, kita bisa mengubah ‘kota di ujung genangan’ menjadi kota yang tangguh dan layak huni, bebas dari ancaman banjir yang tak berkesudahan.

Exit mobile version