Berita  

Stunting di Indonesia Masih Tinggi: Target 2025 Terancam

Stunting Indonesia: Bayangan Gelap 2025 & Masa Depan yang Terancam

Meskipun berbagai upaya telah digulirkan, prevalensi stunting di Indonesia masih berada pada angka yang mengkhawatirkan. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan ancaman serius terhadap masa depan generasi penerus dan kualitas sumber daya manusia bangsa. Dengan target penurunan stunting hingga 14% pada tahun 2025 (atau 2024 sesuai RPJMN), realitas yang ada menunjukkan bahwa pencapaian target tersebut kini terancam.

Ancaman di Balik Angka

Stunting, kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik. Dampaknya jauh lebih fatal, meliputi penurunan kemampuan kognitif, melemahnya sistem imun, peningkatan risiko penyakit tidak menular di masa dewasa, hingga penurunan produktivitas ekonomi. Singkatnya, stunting merenggut potensi anak bangsa, menciptakan generasi yang kurang cerdas, kurang sehat, dan kurang kompetitif.

Dengan angka prevalensi yang masih di atas 20% (berdasarkan data terakhir, meskipun sudah menurun dari tahun-tahun sebelumnya, namun belum mencapai target), Indonesia harus bekerja keras untuk mencapai target 14% pada 2025. Jeda waktu yang singkat menuntut percepatan dan efektivitas intervensi yang luar biasa.

Tantangan Multidimensional

Pencapaian target ini menghadapi tantangan multidimensional. Akar masalah stunting sangat kompleks, tidak hanya soal asupan gizi langsung, tetapi juga terkait sanitasi dan akses air bersih yang layak, pola asuh yang kurang tepat, minimnya edukasi gizi bagi ibu dan keluarga, akses terhadap layanan kesehatan, hingga ketersediaan pangan bergizi yang terjangkau. Ketimpangan antar wilayah juga menjadi PR besar, di mana daerah-daerah terpencil seringkali memiliki prevalensi stunting yang jauh lebih tinggi.

Mendesak: Intervensi Holistik dan Komitmen Kuat

Waktu terus berjalan, dan target 2025 semakin mendekat. Untuk menghindari kegagalan, diperlukan pendekatan holistik dan terintegrasi yang melibatkan seluruh elemen masyarakat dan pemerintah. Intervensi harus fokus pada:

  1. Prioritas 1000 HPK: Pastikan ibu hamil mendapatkan gizi yang cukup, suplementasi zat besi, dan pemeriksaan kehamilan rutin. Lanjutkan dengan pemberian ASI eksklusif hingga 6 bulan dan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang adekuat dan bergizi setelahnya.
  2. Perbaikan Sanitasi dan Air Bersih: Ini adalah fondasi penting untuk mencegah penyakit infeksi yang dapat memperburuk kondisi gizi anak.
  3. Edukasi Gizi dan Pola Asuh: Memberdayakan keluarga dengan pengetahuan tentang gizi seimbang, cara menyiapkan makanan sehat, serta pola asuh yang mendukung tumbuh kembang optimal anak.
  4. Akses Layanan Kesehatan: Memastikan imunisasi lengkap, deteksi dini tumbuh kembang, dan penanganan cepat untuk anak-anak yang sakit.
  5. Penguatan Koordinasi Multisektoral: Pemerintah pusat, daerah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat harus bersinergi dalam perencanaan, implementasi, dan evaluasi program pencegahan stunting.

Stunting bukan hanya masalah kesehatan, melainkan investasi masa depan bangsa yang tidak bisa ditawar. Tanpa komitmen yang lebih kuat dan implementasi program yang lebih efektif dan merata, ancaman kegagalan mencapai target 2025 bukan lagi isapan jempol, melainkan bayangan gelap yang siap menyelimuti potensi Indonesia di masa depan. Sudah saatnya kita bergerak lebih cepat, lebih cerdas, dan lebih terpadu.

Exit mobile version